Bejo dan Trimbil pun Punya Acara


Bukan Ilustrasi yang pas sih, tapi ya mendingan deh, daripada nda ada -___-


Alkisah disebuah Universitas yang tidak begitu terkemuka di Kota Maju Mundur, muncullah persahabatan yang penulis yakin sebenernya bukan sahabat juga sih, yaitu Bejo dan Trimbil. Bejo ialah seorang anak yang serba bisa. Dia lelaki yang sangat pandai dalam hal desain mendesain, kalau kata orang sense of art nya main! Hampir semua orang suka dengan karyanya, dan yang menyenangkan dari dirinya adalah, dia tipe orang yang sangat terbuka jika ada orang yang mengkritik desainnya. Dia mau mendengar semua yang dikatakan orang lain. Luar biasa bukan?

Tapi ya itu, karena banyak yang merasa desain itu udah bagus dan tidak perlu kritikan (atau orang-orang disekitarnya tidak peduli dengan desain, entahlah) makannya ngga ada seorangpun yang mau ngerespon atau komentar sama karyanya. Hahahhahah, bingung saya!

Oh ya, hal luar biasa dari Bejo selain jago desain, dia juga orang multi talenta, yeah, apapun bisa. Mulai dari ngecat tembok, paku-memaku papan, hingga memasang banner yang jauh diatas sana, dia bisa!

Sedikit sama dengan Bejo, Trimbil gadis kecil gesit dan suka tertawa itu juga mampu melakukan banyak hal, yang kadang diluar nalar, seorang wanita. Okelah dia emang jago dalam hal riset, tapi diluar itupun, jangan tanya deh, mulai dari menulis surat dan mencetaknya, kemudian melipatnya dalam amplop, hingga menggotong tangga lipat dari lantai satu hingga lantai tiga. Oh ya, satu lagi, konon dia pernah menata meja kursi yang akan digunakan untuk acara seminar nasional seorang diri! Edan to!

Disuatu ketika, Bejo dan Trimbil mendaftar sebagai salah satu Panitia dalam perayaan Ulang Tahun perusahaan Tambang Tinimbang, Perusahaan emas terbesar di Asia Tenggara.
Kehebatan mereka berdua dalam event management tidak dapat dipungkiri. Berbekal CV yang telah melalang buawa di berbagai EO, mereka langsung saja di terima oleh PT Tambang Tinimbang dan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan.
Bejo diposisikan sebagai Creative Head, yang tentu saja mengurusi semua hal yang berhubungan dengan kreativitas, tentu saja desain masuk didalamnya.

Kemudian Trimbil yang pandai dalam research langsung mendapat tempat yang urgent, yaitu Sekretaris. Trimbil juga bingung, apa hubunganya antara research dengan sekretaris. Tapi dia terima saja lah, toh bayarnya gede, bahkan lebih gede dari Bejo. Dan otomatis juga posisi Trimbil sebagai sekretaris menjadi bagian dari jajaran orang-orang penting perusahaan yang mengatur semua jalannya Ulang Tahun tersebut.

Bisa dikata, bahwa Bejo mulai iri dengan posisi Trimbil yang lebih nyaman. Lambat laun, Bejo gemar sekali mencari-cari kesalahan Trimbil. Mulai dari kritikan untuk presensi yang tidak jelas, laporan yang kurang maksimal, dan lain-lain.
Awalnya Trimbil merasa membenarkan apa yang dikatakan Bejo itu. Bahwa dia tidak cermat dan kurang gesit dalam melakoni pekerjaanya sebagai sekretaris. Namun, lambat laun kritikan untuk  Trimbil terus saja datang, bahkan bukan hanya dari Bejo, dari hampir semua divisi Perayaan Ulang Tahun tersebut.

Trimbil pun jengah. Dia merasa semua yang dilakukan salah. Dia memilih diam saja, namun masih melakukan apa yang seharusnya menjadi kewajibanya.

Oke, sedikit cerita tentang pribadi Trimbil, dia gadis yang tak mungkin bisa menerima kekalahan, barang sedikitpun. Kesalahan seujung kuku aja, dia tidak mungkin bisa terima. Itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang kelewatan independent. Dalam pemikiranya, “buat apa harus bekerjasama, jika sendiri saja bisa dia lakukan.”

Tapi tentu saja, dia gak mungkin hidup sendirian terus, jomblo dong nanti. Kehidupan sosial sangat dia sukai dia juga suka kok bekerjasama, karena selama kuliah di periklanan, kerjasama adalah hal wajib yang ga mungkin bisa dilewatkan.

Namun, yang menyebalkan dari Trimbil adalah, dia tidak bisa menerima kegagalan orang lain, yang akan turut menggagalkan dirinya sendiri. Trimbil begitu obsesi dengan keberhasilan. Bahkan jika perlu, dia akan melakukan hal yang sebenarnya menjadi tugas orang lain dan akan dia kerjakan sendiri. Apakah terdengar egois?

Malam Perayaan akhirnya tiba. Orang-orang mulai berdatangan dengan sandangan yang menawan, kerlap-kerlip lampu pun sungguh menawan, ditambah ketawa yang lepas menjadi suguhan ditiap sudut meja, tentu saja Pak Bos sangat senang dengan suasana itu, ditambah  segala jenis hidangan ada di hadapan mata, melihat perutnya yang buncit, banyaknya hidangan adalah surga baginya.

Tapi tidak juga dengan Bejo dan Trimbil. Mereka tidak begitu tergiur dengan segala hingar bingar yang ada. Bagi mereka, pesta sebenarnya adalah, ketika pesta telah selesai dan orang-orang keluar venue dengan masih menyungging senyum. Itulah bahagia untuk mereka.

Namun, melihat rangkaian acara yang berantakan sekali, Trimbil benar-benar panik. Semua pengisi acara belum ada yang mendapatkan briefing dari divisi acara. Trimbil pun sontak memarahi divisi acara, yang dirasanya kurang becus.
Kemudian, dengan persetujuan divisi acara pun, Trimbil mengambil alih tugas yang harusnya dilakukan mereka.

Namun tiba-tiba Bejo datang, dan dengan ketus dia berkata, “Ngapain kamu mengambil alih tugas yang bukan kewajibanmu?”

“Ngapain juga kamu ngurusin aku? Aku ga bakal rela, acara yang sebesar ini bakalan berantakan di tangan orang yang ga bisa menghandle acara!” jawab Trimbil lebih ketus.

“Heh, mulutmu itu dijaga! Kata-katamu banyak bikin sakit hati orang lain!” Jawab Bejo masih ketus.

Trimbil yang tidak pandai berdebat pun akhirnya memilih diam, dan bertanya, “Terus maumu apa?”

“udahlah, ga usah ikut campur urusan orang lain, biar itu dikerjakan mereka sendiri” ucapnya sedikit menurun.

Sambil berlalu Trimbil berkata, “Oke!!”

Emosi, marah, kecewa. Mungkin begitulah perasaan Trimbil saat itu, yang merasa disakiti hatinya. Padahal niatnya benar-benar baik.
Waktu berjalan saat lambat, karena Trimbil memilih duduk sendirian keluar dari hingar bingar pesta yang kian meriah.

Perayaan selesai dengan meriah. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi. Dan Trimbil pun masih memilih diam.
Disaat semua selesai melaporakan tanggung jawab masing-masing, tiba-tiba Bejo meminta waktu untuk sedikit kritikan malam itu.
Benar saja apa dugaan Trimbil. Bejo mengkritik Trimbil.

“Saya merasa semua divisi telah melakukan banyak tugas, mulai dari yang ringan, hingga yang berat. Tapi saya masih merasa, tugas yang diberikan itu tidak fair. Karena ada divisi yang kerjaanya ga jelas, dan malah terkesan tidak bekerja sama sekali.” Pembukaan yang menarik dari Bejo.

“Lihat saja Divisi Umum (adalah Ketua, Sekretaris dan Bendahara) yang kerjaanya tidak kelihatan sama sekali, jadi selama ini Divisi Umum ngapain aja?” Sambung Bejo.

Ucapnya yang tentu saja mengagetkan Trimbil. Bagaimana mungkin Bejo bisa bilang seperti itu. Bejo itu sungguh lucu sekali, belum ada lima jam yang lalu, di depan Trimbil pribadi, dia bilang, kalau Trimbil jangan terlalu ambil bagian pekerjaan orang lain. Biarkan yang mengerjakan itu orang yang bertanggung jawab. Tapi di depan forum, dia bilang Divisi Umum gak pernah kerja sama sekali! Helooooo…what a fucking mouth!

Trimbil yang merasa menjadi bagian dari Divisi Umum itupun marah. Dan meninggalkan tempat itu saat itu juga.

Sekian cerita tentang Bejo dan Trimbil yang belum sempat terekspos media.

Komentar